alat musik tradisional bali: penjelasan beserta gambarnya

Alat Musik Tradisional Bali – Bali memang terkenal dengan kekayaan tradisi dan budayanya yang dijaga dengan baik oleh masyarakatnya. Salah satu aspek yang mencolok adalah keberlanjutan seni musik tradisional Bali yang kaya akan nilai-nilai budaya. Oleh karena itu, kita perlu memahami berbagai alat musik Bali, sejarahnya, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Meskipun kita berada di era modern, tetapi tradisi musik Bali masih tetap hidup dan dihargai. Ini mencerminkan kekokohan kebudayaan dan kesenian masyarakat Bali. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenal lebih dekat alat musik tradisional Bali agar dapat mengapresiasi keindahan dan kedalaman budayanya. Dengan memahami sejarah serta nilai-nilai yang terkandung dalam alat musik tradisional Bali, kita dapat memperkaya pemahaman tentang keberagaman budaya Indonesia, khususnya warisan seni musik Bali yang begitu berharga.

Baca juga: Melestarikan Alat Musik Tradisional Khas Jawa

Berikut 9 Alat Musik Tradisional Bali: Penjelasan Beserta Gambarnya

1. Rebana Bali

alat musik tradisional bali

Rebana telah menjadi terkenal sebagai nama sebuah ansambel musik. Dengan kata lain, itu merujuk pada musik rebana yang melibatkan instrumen-instrumen seperti drum berbentuk payung dengan satu mulut atau Tsukubu. Dalam konteks tradisi Bali, rebana juga merupakan bagian dari beberapa balungan gamelan Bali, seperti Pajangeran dan Pangaljanganberan. Dalam musik Bali, rebana berfungsi sebagai akhir lagu atau penanda selesainya sebuah ukuran lagu, mirip dengan peran rebana dalam ansambel Gamelan.

Ada berbagai jenis rebana dengan ukuran dan nada yang berbeda, termasuk dalam ansambel Gamelan yang mungkin hanya memiliki satu rebana. Dalam ansambel tersebut, masing-masing untuk Pajangan dan Panglanjan, rebana ukuran terbesar yang digunakan. Saat dimainkan, rebana dipukul secara vertikal dengan tutupnya menghadap ke kanan. Pemain duduk bersila dengan tangan kiri memegang badan rebana, sementara telapak tangan menyentuh permukaan permainan rebana. Perlu dicatat bahwa seperti kendang Gupekan, rebana dipukul di bagian tepi penampang kulitnya, bukan di bagian tengah.

2. Gender

alat musik tradisional bali

Alat musik Gender adalah variasi dari Gangsa jika dilihat dari segi bentuk perkusinya. Bentuknya juga seperti Ganga yang terdiri dari susunan bilah-bilah menurut treble dan bass, serta jumlah suara. Bentuk selevanya juga berbeda, termasuk panggul untuk memukulnya. Gansa hanya dipukul dengan satu panggul.

Sedangkan Gender menggunakan dua panggul untuk bisa memainkannya. Perbedaan cara memainkan kedua alat musik tersebut tentunya juga menyebabkan perbedaan teknik memainkan kedua alat musik Bali ini. Selain itu, bentuk panggul berbeda tergantung pada jenisnya.

Yakni panggul Gangsa terbuat dari bambu, sehingga bentuknya seperti pali dengan bagian atas yang sempit dan bagian batang yang rata. Sedangkan kepala panggul Gender lebih bulat, rata dan tidak terlalu keras. Tangkai Gender terbuat dari kayu bundar yang panjangnya sekitar satu jengkal.

3. Rindik

alat musik tradisional bali

Rindik adalah alat musik tradisional Bali yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara dipukul menggunakan palu khusus. Instrumen ini memiliki lima nada dasar pada bilah bambunya. Secara tradisional, Rindik sering digunakan dalam seni joged bumbung, di mana seorang penari wanita mengajak penonton pria untuk menari bersama.

Selain peran utamanya dalam joged bumbung, Rindik juga sering menjadi bagian dari acara resepsi pernikahan dan penyambutan tamu. Instrumen ini memiliki sejarah yang panjang, berasal dari angklung reyog kerajaan Majapahit yang dibawa ke Bali setelah invasi kerajaan Demak. Saat itu, kesulitan dalam merakit gamelan yang berisi angklung menghasilkan adaptasi menjadi Rindik, karena angklung tidak dapat dibentuk dengan cara tradisional.

Asal-usul nama “Rindik” berasal dari bahasa Jawa kuno yang berarti ditempatkan dengan rapi dan memiliki sedikit celah. Dalam pertunjukan, Rindik dimainkan oleh dua hingga lima orang, masing-masing pemain memiliki peran khusus. Beberapa memainkan Rindik, sementara yang lain memainkan suling dan gong puru. Awalnya digunakan sebagai hiburan untuk petani dan musik latar untuk masyarakat, seiring waktu, Rindik telah menjadi pengiring yang populer untuk acara-acara seperti pernikahan, resepsi, dan penyambutan tamu.

4. Gangsa

alat musik tradisional bali

Gangsa merupakan salah satu alat musik Bali yang menjadi bagian dari ansambel Gamelan Balung. Alat ini memiliki bilah-bilah yang terbuat dari bahan perunggu. Di Bali, terdapat berbagai gaya Gamelan Balungan yang menggunakan Gangsa, seperti Semara Pagulingan, Angklung, Gong Kebyar, Gong Gede, dan Gambang. Bentuk dan susunan bilah Gangsa pada setiap Gamelan Balungan memiliki fungsi yang berbeda.

Dalam beberapa jenis Gamelan, Gangsa berperan sebagai jaringan guratan dan menentukan dimensi lagu. Sebagai contoh, Gamelan tertentu mungkin hanya memiliki dua bagian tangguh Gangsa Jongkok untuk memegang melodi, seperti pada Gamelan tertentu. Sebaliknya, Gong Gede memiliki delapan tangguh Gangsa Jongkok dan dua belas bentuk Gang Gantung, menciptakan kompleksitas dan variasi dalam susunan Gangsa yang memberikan karakter khas pada ansambel tersebut. Berikut ini jenis-jenis Gangsa:

  • Gangsa gantung kantil
  • Gangsa gantung pemade
  • Gangsa jongkok pemade
  • Gangsa jongkok curing
  • Gangsa jongkok kantil
  • Gangsa jongkok pengakep
  • Gangsa jongkok Penunggali

5. Gong

alat musik tradisional bali

Gong Bali adalah alat musik tradisional Bali yang terbuat dari logam atau tembaga, memiliki tonjolan atau lingkaran di tengahnya. Terdapat variasi ukuran dan bentuk, serta beragam suara yang dihasilkan. Alat musik ini telah menjadi bagian dari budaya Bali sejak abad ke-13. Salah satu variasinya yang terkenal adalah Gong Kebyar, yang merupakan bagian dari ansambel Gamelan Bali. Gong Bali memainkan peran penting dalam kehidupan musik dan upacara adat Bali, memberikan dimensi khusus dalam menciptakan atmosfer dalam setiap pertunjukan atau acara.

6. Gamelan Bali

alat musik tradisional bali

Gamelan adalah sebuah ansambel alat musik tradisional Bali yang mencakup berbagai instrumen seperti gong, gambang, gendang, kempul, dan bonang. Ansambel Gamelan tersebar di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Jawa, Madura, Bali, dan Nusa Tenggara, masing-masing dengan gaya dan ciri khasnya sendiri.

Menurut sejarah, keberadaan Gamelan di Bali telah ada sejak abad ke-9 M, terlihat dari prasasti Bebetin pada masa pemerintahan Raja Ugrasena di Bali. Namun, pada saat itu, bentuk Gamelan masih sederhana dan belum seperti bentuknya saat ini.

Gamelan Bali memiliki peran yang signifikan dalam tradisi dan upacara adat Bali, serta dalam upacara keagamaan. Bali dikenal sebagai rumah bagi sekitar 25 jenis Gamelan, di mana 10 di antaranya terbuat dari bambu dan sisanya dari logam. Ansambel Gamelan Bali dapat dibagi menjadi beberapa bagian, termasuk Gamelan tua yang melibatkan instrumen seperti gambang, saron, selonding kayu, gong besi, dan lainnya. Gamelan madya yang mencakup instrumen seperti pegambuhan, semar pegulingan, pelegongan, dan lainnya. Dan Gamelan baru yang mencakup instrumen seperti pengerjaan, gong kebyar, pejangeran, angklung bilah tujuh, dan lainnya. Setiap bagian Gamelan memiliki peran dan fungsi khusus dalam menciptakan keindahan musik Bali.

7. Ceng-Ceng

alat musik tradisional bali

Ceng-ceng memang merupakan salah satu elemen kunci yang membedakan Gamelan Bali dari gamelan lainnya. Alat musik ini mirip dengan simbal dan memberikan sentuhan dinamis pada ansambel Gamelan Bali saat dimainkan.

Struktur Ceng-ceng terdiri dari enam logam bulat di bagian bawah dan dua logam bulat di bagian atas. Saat dimainkan, logam putaran atas dipukul dengan menggunakan logam putaran bawah, menciptakan suara yang khas dan berkontribusi pada kompleksitas musik Gamelan. Ceng-ceng dalam konteks Gamelan Bali juga sering disebut sebagai ceng-ceng ricik. Keberadaan alat musik ini menambah nuansa kaya dalam keseluruhan ansambel dan menjadi salah satu elemen yang memperkaya pengalaman mendengarkan musik Bali tradisional.

Baca juga: alat musik papua

8. Guntang

alat musik tradisional bali

Guntang adalah salah satu instrumen dalam gamelan barungan yang digunakan untuk mengiringi tari Arja. Meskipun saat ini tari Arja lebih sering diiringi oleh barungan gong kebyar, instrumen Guntang masih tetap digunakan untuk memberikan nuansa khas pada pertunjukan tari tradisional Arja. Guntang dianggap sebagai elemen kunci yang penting bersama dengan instrumen lain seperti seruling, kendang, klenang, dan ceng-ceng.

Karakteristik unik dari Guntang terletak pada cara nadanya dihasilkan saat dipukul. Nada yang dihasilkan oleh Guntang tidak memiliki nilai tertentu, berbeda dengan instrumen lainnya yang umumnya terkait dengan sistem nada Pelog atau Slendro. Dalam barungan geguntangan, melodi dikendalikan oleh suling, dan Guntang berperan sebagai penanda akhir dari sebuah lagu. Dengan peran ini, Guntang menambah dimensi penting dalam struktur musik dan penampilan keseluruhan dari tari Arja.

9. Genggong Takep

alat musik tradisional bali

Genggong, sering disebut sebagai kecapi atau harpa mulut, memiliki dengung di rongga mulutnya yang bersentuhan dengan senar dan lidah lentur. Ciri khas instrumen Genggong Takep ini terletak pada suara yang dihasilkan, yang mirip dengan suara jangkrik, angin, dan panggilan lebah.

Teknik bermain Genggong melibatkan jari kiri yang memegang sisi kiri instrumen, sementara tangan kanan meraih sebatang bambu kecil yang terhubung dengan benang di ujung kanan alat musik. Suara harpa ini dihasilkan dengan menarik batang bambu ke samping dan sedikit dimiringkan ke depan. Corong juga digunakan untuk mengontrol volume suara. Saat dimainkan, Genggong tidak hanya menghasilkan melodi yang khas, tetapi juga menampilkan ekspresi wajah pemain yang sering terlihat aneh dan lucu.

Genggong tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga merupakan bagian integral dari ansambel yang mengiringi seni tari rakyat, seperti dalam cerita “Pangeran Kodok”. Sebagai bagian dari tradisi seni dan budaya, Genggong membawa nuansa khas dalam pertunjukan dan menciptakan pengalaman yang unik bagi penonton.

10. Suling Gambuh

alat musik tradisional bali

Seruling, juga dikenal sebagai Suling Gambuh atau suling penyembuh, adalah sejenis suling yang memiliki ukuran besar dan panjang. Tubuh seruling ini dilengkapi dengan enam lubang suara, dengan lubang tiup terletak di bagian akhirnya. Suling Gambuh dimainkan secara diagonal, dan karena panjangnya, ujung suling harus diletakkan di lantai.

Jenis suling ini memainkan peran penting dalam ansambel Gamelan Bali, khususnya dalam kesenian Gamelan Gambuh. Dalam ansambel ini, terdapat tiga Suling Gambuh yang menjadi inti dari Gamelan dan bertanggung jawab untuk memainkan melodi. Selain Suling Gambuh, Gamelan Gambuh juga dilengkapi dengan beberapa instrumen lain, seperti biola, sepasang kendang kecil, ceng ceng ricik, gong kecil, dan berbagai alat musik tabuh lainnya. Gabungan harmonis dari berbagai instrumen ini menciptakan karya musik yang kaya dan nuansa yang khas dari seni musik Bali.

3 pemikiran pada “alat musik tradisional bali: penjelasan beserta gambarnya”

Tinggalkan komentar